0

Oleh: Hasmi

Aku adalah Mr.Nice yang saat ini sedang di Jombang untuk liburan. Aku bertemu dg banyak sahabat yang menarik perhatianku akan kebebasan. Teringat aku saat masih di sekolah dasar.
.
Saat itu aku masih polos dan tak tahu apa2 Serta penakut. Ada seorang Teman yg kami sebut "nogo sari". Ia adalah perempuan yg tidak pintar dan tidak cantik, lebih2 ia menjengkelkan. Aku dan teman2ku khususnya setelah menginjak kelas 5 SD, selalu membullynya. Entah kenapa, yang mendorong kami membully adalah salah seorang guru kami yg senantiasa membully dan mengolok2nya di kelas, pada saat pelajarannya.

Mungkin maksud guru kami adalah menambah semangat dg sindiran2 yg mengena, namun saat itu yg kami ketahui adalah Ia turut membully Nogo Sari.
.
Semenjak kelas 5 bullyan kami Tak berhenti, bahkan hingga kelas 6. Lebih parahnya, bullyan kami saat itu bukan Hanya bersifat ejekan, namun hingga menjurus Ke arah kekerasan. Seperti volly, kami men-smash kepalanya dengan bola plastik yg kami gunakan utk bermain sepak bola.

Masih teringat jelas dibenakku bahwa setiap hari ia menangis dan merengek. Tapi meski begitu, kami tak pernah menyesali perbuatan kami.
.
Aku, yg memang memiliki jarak, tak dapat berbuat apa2 dan malah ikut tertawa ketika Nogo Sari mulai menangis. Meski dalam hati kecilku saat itu. Aku merasa bersalah karna tak sanggup melakukan apapun. Aku penakut. Kekerasan itu di pioneering oleh temanku yg merajai kelas.

Saat ini aku mulai sadar, banyak aspek dari kita yg sangat salah jika menyepelekan hal itu. Satu hal yang Aku ketahui saat ini, yaitu nasib Nogo Sari. Ia telah menjadi Istri sejak umurnya 17 tahun. Yg Aku tahu pula, ia putus sekolah sebelum lulus SMP, kira2 masih kelas 2 waktu itu. Faktor2 yg mempengaruhinya adalah kekerasan dalam kelas dan deskriminasi. Para gurupun ikut pula mengolok2 dia karena ketidakcakapannya dalam hal pelajaran.
.
Yah... Budaya dan lingkungan sangat mempengaruhi hati diri dan psikologi seseorang. Aku merasa kasihan bagaimana ia kini jadinya. Yg Aku tahu... Ia memiliki suami dan masa lalunya tetap menghantui. Ia tak mampu melawan juga tak memiliki inisiatif melawan. Hanya menerima dan pasrah dg apa yg ia punya.

Bagaimanapun, Ia juga manusia. Sangat layak utk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan dg teman2nya. Aku tak mampu membayangkan apa yg dia rasakan semenjak saat itu. Mungkin Hanya DOA yg mampu Aku perbuat saat ini.

Alfatihah...

Post a Comment

 
Top