0

"Mas, jenengan dienteni wargo Sumbergogor. Nek mboten saget mriko. Tiyang-tiyang sing bade sowan mriko pas tahun baru,"

"Duuhh... Kulo mawon sing mriko, Pak Koes. Kulo mawon nggih,"

*

Begitulah percakapan saya dan Pak Koesman tiga hari lalu via Whatsapp. Saya akan merasa sangat bersalah jika warga Sumbergogor yang harus ke rumahku. Rumah mereka ada di leteng Gunung Anjasmoro, perbatasan dengan Malang. Jauh sekali.

Aku tahu meski belum pernah ke sana. Google Maps membantuku menemukan lokasi gereja induknya di Wonosalam. Padahal Sumbergogor adalah pepanthan, ranting dari induk, yang lokasinya, sorry to say, tidak terdeteksi di perangkat GMaps.

Pastilah membutuhkan upaya luar biasa dari mereka untuk sampai ke rumah saya yang letaknya di ibukota kabupaten. "Tidak. Aku yang harus ke sana. Kurang ajar sekali diriku ini jika mereka harus bersusah payah menemuiku di rumah," batinku.

Sejurus kemudian, saya juga berfikir keras apakah sepeda motor saya cukup kuat naik ke sana. Apalagi saya sudah menawari Lail, adikku, untuk ikut serta. Saya kemudian menghubungi Pak Koesman untuk bareng mobilnya. "Sae ngoten, gus. Nanti sareng kaliyan Pdt. Nug dan Pdt. Teguh," ujarnya. Dua pendeta itu melayani di GKJW Sumbergondang dan Mutersari.

Maka Jumat (28/12) kami pun semobil berlima. Mas Nug ditemani mbak Menik, istrinya, setelah menjemput Pdt. Teguh di GKJW Mutersari, sejalan menuju Sumbergogor Wonosalam.

Saat di GKJW Mutersari, kami turun melihat-lihat gereja yang telah lama menjadi ikon "pluralisme" di Jombang. Inilah satu-satunya gereja yang halamannya menyatu dengan masjid. Anda bisa melacaknya di Google dengan keyword "GKJW Mutersari Masjid," Terkait kunjungan di Mutersari, saya akan menceritakannya di tulisan yang lain.

Maka, sebagaimana yang sudah saya duga sejak awal, lokasi gereja di Sumbergogor lumayan jauh dengan tanjakan yang konstan serta jalur yang cukup sempit. Jika berpapasan dengan mobil pengangkut ternak dan hasil bumi, mobil kami harus berhenti dan mepet ke kiri.

Meskipun sebelah kiri kami adalah jurang yang cukup dalam namun saya tak merasa kuatir. "Ini perjalanan suci karena dijaga oleh 2 pendeta, 1 majelis, dan 1 perempuan penjaga pendeta," gurau saya disambut gelak tawa semua.

Tiba di Sumbergogor. Saya sudah disambut tembok penahan tanah bertingkat 3 yang cukup tinggi. "Akhirnya aku bertemu tembok yang selama dua bulan ini hanya aku lihat melalui foto," batin saya.

Ini tembok ratapan.

Setahun lalu, persis saat Natal, tingginya curah hujan membuat tanah tersebut longsor. Mobil polisi yang tengah menjaga natal ikut tertimbun tanah tersebut. Warga jemaat gereja yang hanya 15 kk sangat resah karena tidak mampu sendirian mengatasi longsor tersebut. "Niki ajenge Natal, mangke nek longsor maleh yok nopo," kata bu Yuli saat bertemu saya di Bravo beberapa waktu lalu.

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan, saya kemudian berinisiatif membantu mereka. Tidak dengan dana, karena saya juga kismin, tapi melalui penggalangan dana via Facebook dan twitter. "Sak mantune njenengan woro-woro niku. Transferan mlebet kathah, gus. Pun cekap-cekap damel mbangun. Dereng bantuan sing saking Majelis Agung," kata Pak Jun kepada saya saat ngobrol di dalam gereja. Asap rokoknya terus mengepul, sama dengan saya.

Saya melihat raut muka bahagia Pak Jun yang terus menceritakan betapa warga sangat bersyukur atas pencapaian ini. Entah sudah berapa puluh kali nama Gusti Yesus diselipkan dalam percakapannya dengan saya saat itu.

"Sayange njenengan kok mboten saget mriki pas Natalan sat wingi," katanya.

"Nggih pak. Kulo pas wonten acara ten Pondok Njoso. Lancar nggih pak acarane?" saya menimpali.

"Wargo ndamel drama," ujarnya.

"Hah? Drama? Gereja sekecil dan sendeso ini bikin drama?" batin saya.

Sebagai catatan, drama berdurasi pendek selalu saya temui di setiap perayaan Natal yang saya hadiri tahun ini. Delapan kali ikut perayaan natal, delapan kali saya menyaksikan pentasan drama.

Ceritanya tidak melulu berkisah tentang epos konvensional kelahiran Yesus, namun lebih kontekstual dengan mengambil tema tentang perjuangan menegakkan kebenaran melawan kejahatan. Tentu saja dengan akhir cerita yang happy ending; terang pada akhirnya mengalahkan kegelapan.

Akan tetapi menariknya, saya selalu menjumpai strategi pemenangan yang sama di tiap drama, yakni strategi yang bertumpu pada penggunaan pilar "penderitaan," "kesabaran," "kasih," dan "pengampunan," Bagi saya ini sangat Kristen dan...Katolik.

"Dramanya bercerita tentang apa, Mas?" tanya saya ke Pak Jun.

"Niku, Gus, soal longsor," ujarnya.

Ia kemudian menceritakan singkat terkait cerita drama tersebut; betapa warga telah sangat putus asa menghadapi longsor ini sampai akhirnya bisa teratasi dengan proses yang cukup berliku.

"Kathah wargo sing mbrebes mili pas ningali drama niku, gus," katanya sembari, lagi-lagi, menyelipkan "Gusti Yesus" dalam ungkapan syukurnya.

Diam-diam saya membatin, Pak Jun ini tampak lebih relijiyes ketimbang kebanyakan teman pendeta saya. Sebab saya tak pernah mendengar mereka menyebutNya sebanyak Pak Jun untuk percakapan yang tak terlalu panjang ini.

"Kulo matur nuwun nggih," katanya dengan tulus.
"Saya justru yang matur nuwun telah diperbolehkan ikut membantu," timpal saya dengan bahasa Indonesia. Terpaksa, karena perbendaraan kosakata Jawa saya sudah tidak lagi mencukupi.

Pembangunan tembok penahan tanah ini menurut Pdt. Teguh juga telah menyebabkan sedikit "kontraksi" di kalangan koleganya. Inisiatif publikasi yang saya ambil ditanggapi secara beragam. Pro-kontra terjadi. Saya sangat mafhum akan hal ini. Mungkin ada yang merasa tidak enak karena inisiatif itu justru muncul dari "orang luar,"
Saya sendiri tidak pernah merasa menjadi "orang luar" bagi GKJW.

"Tapi ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kami," kata pendeta senior ini sambil tersenyum.

"Aku njaluk sepuro yo Mas. Tidak ada niatan jahat sedikit pun. Majelisnya datang padaku didampingi Nugroho. Aku yo bingung piye olehku ngewangi. Lha wong aku yo gak gablek duwik. Tolong sampeyan omongi konco-konco nek aku yo pengen mlebu suwargo, mosok kate dimonopoli dewe. Wong Islam gak oleh mlebu suworgone GKJW, ngunu tah?" kataku dengan tertawa-tawa. Ia pun ikut-ikutan ngakak.

Jika mau dirunut dengan nalar hukum klasik Islam (fiqh), bantuan saya kepada Sumbergogor, atau gereja manapun, akan digolongkan perbuatan haram; jika dilakukan akan mendapat dosa. Tidak ada satu pun madzhab fiqh Sunni yang tidak berpendapat demikian. Basis argumentasinya jelas. Kekristenan model trinitarian digolongkan sebagai kekafiran dan penyekutuan Allah dengan menganggap Yesus sebagai Tuhan. Itu sebabnya, lanjut mereka, membantu mereka sama dengan melakukan perbuatan dosa karena mendukung kekufuran.

Sekilas, argumentasi mereka tidak salah meskipun tidak sepenuhnya tepat. Menurut saya, tugas setiap muslim adalah menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan rahmat bagi umat Islam saja. Tugas ini dijabarkan oleh Alloh dengan menyuruh Muslim berbuat adil ('adl, equal) dan memperlakukan orang lain dengan lebih baik (ihsan).

Menolong non-muslim, apalagi terkait rumah ibadah mereka, tidak bisa dikategorikan perbuatan dosa karena dua hal; pertama, yang disembah orang Kristen adalah Allah. Dan Yesus dipahami mereka sebagai representasi dari ketuhanan itu sendiri. Peran "antara" ini barangkali mirip dengan posisi Ka'bah, yang didalamnya ada batu hitam, yang tiap hari disembah oleh jutaan Muslim.

Mereka pasti menolak dikatakan menyembah batu meskipun realitasnya terlihat demikian. Ka'bah adalah bagian dari representasi ketuhanan. Apakah batu itu Tuhan atau tidak, sangat tergantung dari sudut kita masing-masih.

Pilihan posisi hukum islam klasik yang bernuansa konfrontatif terhadap Kekristenan sangatlah mungkin dipengaruhi situasi rivalitas militeristik (perang) Islam melawan non-Islam ketika Nabi masih di Madinah.

Padahal saat ini, situasi perang semacam itu tidak lagi kita jumpai di Indonesia. Itu berarti ayat-ayat bernuansa permusuhan, seperti QS. 9:29, tidak cukup pas diberlakukan.

Kedua, Kekristenan (dan agama lainnya di Indonesia) tidak bisa dikatakan sebagai pihak yang sedang merepresi umat Islam. Alih-alih, justru Muslim di Indonesia bisa dikatakan mendapat perlakuan spesial dalam konteks kenegaraan jika dibandingkan kelompok lain. Lihat betapa banyak produk hukum yang berkaitan dengan hal ini, misalnya UU Haji maupun sertifikasi halal.

Terhadap non-muslim yang tidak memerangi Islam, sebagaimana ،situasi di Indonesia, maka Alloh telah menyatakan sikapnya secara jelas.

لَا يَنْهٰٮكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَ تُقْسِطُوْۤا اِلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."
(QS. 60:8)

Itu sebabnya, saya mengambil kesimpulan, apa yang saya lakukan dalam konteks GKJW Sumbergogor sangatlah islami.

***

"Monggo dahar rumiyin," tiba-tiba istri Pak Jun menginterupsi diskusi kami. Saya melihat balado jengkol, nasi putih, dadar telur, sambal kecap, dan krupuk telah tersedia di meja makan. Percakapan kami terus mengalir di sana.

Post a Comment

 
Top